Kampung Mandiri Pangan Ibu Profesional dan THSN Dorong Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga
![]() |
| Fasilitator lima regional Ibu Profesional berfoto bersama usai kegiatan Kampung Mandiri Pangan di Klaten. |
KLATEN, 6 September 2026 — Ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan luas. Dari halaman rumah, pot sederhana, sisa dapur, hingga pemanfaatan sumber daya di sekitar tempat tinggal, keluarga dapat mulai membangun kemandirian pangan secara bertahap.
Semangat tersebut menjadi bagian utama dalam kegiatan Kampung Mandiri Pangan (KMP) Ibu Profesional X The Human Safety Net (THSN) yang digelar pada 5–6 September 2026 di Yoso Farm, Klaten.
Kegiatan ini diikuti 20 fasilitator Kampung Mandiri Pangan dari lima regional Ibu Profesional, yakni IP Solo, IP Jogja, IP Salatiga, IP Pacitan Raya, dan IP Semarang. Mereka berkumpul untuk memperkuat pengetahuan sekaligus mempraktikkan berbagai cara membangun ketahanan pangan yang dapat diterapkan di keluarga maupun komunitas.
Kegiatan di Yoso Farm tidak hanya mengajarkan peserta mengenai tanaman, tetapi juga mengajak mereka melihat kembali potensi yang sudah tersedia di lingkungan rumah. Halaman, teras, pot, limbah dapur, hingga sumber daya lainnya dapat menjadi bagian dari sistem pangan keluarga jika dikelola dengan tepat.
Pemilik Yoso Farm, Bapak Widodo dan Ibu Nurul, membagikan pengalaman mereka dalam membangun kemandirian pangan keluarga. Perjalanan Yoso Farm yang dimulai sejak 2017 tersebut berangkat dari gagasan Ketapang Kencana atau Ketahanan Pangan Keluarga Terencana.
Konsep tersebut mengajak keluarga untuk menyusun sistem pangan berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Prinsip yang diterapkan pun sederhana, yakni 3M: Mudah, Murah, dan Melimpah.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah memulai dari akhir. Sebelum menanam, misalnya, keluarga perlu memikirkan ketersediaan pupuk. Begitu pula ketika ingin memelihara ternak, sumber pakan perlu dipersiapkan terlebih dahulu.
Dengan cara pandang tersebut, ketahanan pangan tidak diposisikan sebagai aktivitas yang membutuhkan modal besar. Sebaliknya, keluarga diajak mengoptimalkan apa yang sudah ada di sekitar mereka.
“Rumah adalah ruang atau laboratorium tanpa batas,” menjadi salah satu cara pandang yang diperkenalkan di Yoso Farm. Pesan tersebut menegaskan bahwa proses membangun kemandirian pangan dapat dimulai dari ruang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semangat itu juga tercermin dalam tagline Yoso Farm, “Lestari Nganggo Ati”, yang mengajak masyarakat menjalani kehidupan yang selaras dengan alam dan dilakukan dengan sepenuh hati.
Selama mengikuti kegiatan, para fasilitator mendapatkan pengalaman praktik, mulai dari menyiapkan pupuk untuk tanaman keluarga, mengenal sumber protein hewani dan nabati, mempelajari kandang kastari untuk ayam, hingga memahami pengelolaan minyak jelantah.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dalam pembahasan ketahanan pangan. Peserta dikenalkan dengan prinsip 3AH, yakni Cegah, Pilah, dan Olah, sebagai upaya mengelola sampah sejak dari rumah.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan makanan. Lebih jauh, keluarga juga perlu mampu mengelola sumber daya secara bijak sehingga berbagai bahan yang tersedia tidak berakhir menjadi limbah.
Bagi Bapak Widodo, kehadiran para fasilitator Kampung Mandiri Pangan menjadi momentum untuk memperluas semangat kemandirian pangan ke berbagai daerah. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama berada di Yoso Farm dapat diterapkan secara nyata setelah peserta kembali ke komunitas masing-masing.
“Harapannya bisa dipraktikkan dengan baik dan istiqamah,” demikian pesan Bapak Widodo kepada para peserta.
Pengalaman mengikuti kegiatan tersebut juga memberikan perspektif baru bagi peserta yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman di bidang pertanian. Anita dari IP Pacitan Raya, misalnya, merupakan seorang petani. Namun, kegiatan KMP memberinya cara pandang berbeda mengenai bagaimana ketahanan pangan dapat dirancang secara lebih terencana dari tingkat keluarga.
Sementara itu, Sisil dari IP Jogja menghadapi kondisi berbeda karena tinggal di wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan. Ia bahkan telah tiga kali berkunjung ke Yoso Farm dan merasakan pengalaman berbeda dalam setiap kunjungannya.
Baginya, setiap kunjungan menghadirkan energi yang sama, yakni semangat untuk melakukan perubahan dan menjadi lebih berdaya. Keikutsertaannya sebagai fasilitator KMP juga menjadi kesempatan untuk menjaga ruh atau akar keluarga sekaligus membagikan pengalaman tersebut kepada lingkungan sekitar.
Kegiatan selama dua hari itu diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman belajar. Setelah kembali ke wilayah masing-masing, 20 fasilitator dari lima regional Ibu Profesional akan membawa pengetahuan dan praktik yang diperoleh untuk dikembangkan bersama keluarga serta komunitas.
Gerakan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Tidak harus dimulai dari lahan luas atau program berskala besar, tetapi bisa berawal dari satu pot tanaman, pengolahan sampah dapur, pembuatan kompos, pemanfaatan lahan terbatas, hingga pengembangan sumber protein keluarga.
Pada akhirnya, kemandirian pangan merupakan gerakan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ketika satu keluarga mulai bergerak, kemudian berbagi pengalaman dengan keluarga lain, perubahan dapat berkembang menjadi gerakan komunitas yang lebih luas.
Melalui Kampung Mandiri Pangan, Ibu Profesional bersama THSN mendorong agar keluarga tidak hanya menjadi konsumen pangan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenali, mengolah, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Dari rumah, ketahanan pangan dapat dimulai. Dari keluarga, kebiasaan baik dapat tumbuh. Dan dari komunitas, semangat kemandirian pangan dapat terus bergema.
.jpeg)